Tampilkan postingan dengan label NOVEL MUSASHI BAG 51- 60. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NOVEL MUSASHI BAG 51- 60. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juli 2017



Percakapan dengan Pengikut

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ95ro2H1KZzcaNdwVRBRZIvv9Wa9fRNiaeH-jpaDOAgB-93Bn0aZqhhfd5sXcOe-0TCFLYEkOkvZlQgRdxjXpAa0oyoPb5qnIpPBn7tSF3MDvSw7Guzx5BbW-Oewz4r9Ebvc2mMrKVrs/s1600/Musashi.jpg





SEBELUM makan pagi, Yang Dipertuan Hosokawa Tadatoshi memulai acara hariannya dengan mempelajari buku-buku klasik Kong Hu-Cu. Kewajiban-kewajiban resmi yang sering kali menuntut kehadirannya di Benteng Edo menghabiskan sebagian besar waktunya, tetapi manakala ia dapat memasukkannya dalam jadwal acaranya, ia berlatih seni bela diri. Malam hari, manakala mungkin, ia habiskan bersama para samurai muda yang bekerja padanya.

Suasana di antara mereka agak seperti suasana keluarga yang harmonis, duduk melingkari kepala keluarga. Tentu saja tidak sepenuhnya tidak resmi, karena memang tidak hendak ditanamkan bahwa Yang Dipertuan sederajat dengan mereka. Namun tata krama yang biasanya keras itu dikendurkan sedikit. Tadatoshi, yang bersantai mengenakan kimono dari kain rami ringan, mengundang pertukaran pendapat, yang sering kali mencakup desas-desus terakhir.

"Okatani," kata Yang Dipertuan, khusus kepada salah seorang lelaki yang paling tegap.

"Ya, Pak."

"Kudengar kau cukup mahir main lembing sekarang."

"Betul. Bahkan mahir sekali."

"Ha, ha. Jelas sekali kau bukan orang yang suka pura-pura rendah hati!"

"Kalau semua orang menyatakan demikian, kenapa mesti saya tolak?"

"Hari-hari ini aku akan lihat sendiri, sampai di mana kemajuan teknikmu sesungguhnya."

"Saya selalu menunggu kesempatan itu, tapi tak pernah datang rupanya."

"Kau beruntung kesempatan tidak datang."

"Kalau boleh tanya, apa Bapak pernah mendengar lagu yang sekarangdinyanyikan semua orang?"

"Apa itu?"

"Bunyinya begini:



Ada pemain lembing dan pemain lembing, Segala macam pemain lembing, Tapi yang paling besar Adalah Okatani Goroji... "



Tadatoshi tertawa. "Tak bisa kau begitu saja mempermainkan aku. Itu kan lagu tentang Nagoya Sanzo."

Yang lain-lain ikut tertawa.

"Oh, jadi Bapak tahu?"

"Kau akan heran kalau melihat apa yang kuketahui." la sudah hampir memberikan bukti lebih lanjut tentang itu, tapi kemudian dipertimbangkannya kembali. Ia suka mendengarkan apa yang dipikirkan dan dibicarakan orang-orangnya, dan ia beranggapan bahwa tahu keadaan adalah kewajiban, namun barangkali kurang cocok kalau ia mengungkapkan berapa banyak yang sebenarnya ia ketahui. Maka sebaliknya ia bertanya, "Berapa banyak di antara kalian mengkhususkan diri dalam lembing, dan berapa dalam pedang?"

Dari tujuh orang, ada lima yang belajar lembing, dan hanya dua yang belajar pedang.

"Kenapa begitu banyak yang lebih menyukai lembing?" tanya Tadatoshi. Para pemain lembing sepakat bahwa lembing lebih efektif untuk pertempuran.

"Dan bagaimana pendapat pemain pedang?"

Salah satu dari kedua orang itu menjawab, "Pedang lebih baik. Keahlian bermain pedang menyiapkan diri kita untuk keadaan damai maupun perang."

Ini memang soal yang selalu menjadi pembicaraan, dan perdebatan biasanya berlangsung hidup.

Salah seorang pemain lembing menyela, "Makin panjang lembing itu, makin baik, asalkan tidak terlalu panjang untuk ditangani secara efisien. Lembing dapat dipakai untuk memukul, menusuk, atau membabat, dan kalau mengalami kegagalan, kita dapat beralih pada pedang. Kalau kita hanya menggunakan pedang dan pedang itu patah... nah!"

"Barangkali benar begitu," balas seorang wakil seni pedang, "tapi kerja seorang samurai tidak terbatas pada medan tempur. Pedang adalah jiwanya. Melatih seni pedang berarti menghaluskan dan mendisiplinkan semangat kita. Dalam arti seluas-luasnya, pedang adalah dasar semua latihan militer, apa pun kekurangan pedang dalam pertempuran. Kalau kita menguasai makna yang dalam dari Jalan Samurai, disiplin pedang itu dapat diterapkan pada lembing, atau bahkan juga senapan. Kalau kita mengenal pedang, kita tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan yang bodoh atau kena serangan mendadak. Permainan pedang adalah seni yang dapat diterapkan menyeluruh."

Perdebatan itu bisa berlangsung terus, tanpa batas, tapi Tadatoshi yang mendengarkan tanpa berpihak itu berkata, "Mainosuke, apa yang baru kaukatakan itu kedengarannya ucapan orang lain."

Matsushita Mainosuke bertahan. "Tidak, Pak. Itu pendapat saya sendiri."

"Ayolah, jujur saja."

"Ya, terus terang, saya mendengar yang serupa itu ketika saya mengunjungi Kakubei baru-baru mi. Sasaki Kojiro bicara soal itu juga. Tapi ucapan itu cocok sekali dengan pikiran saya sendiri.... Saya tak mau menipu siapa-siapa. Cuma Sasaki dapat menguraikannya dengan lebih baik daripada saya."

"Aku juga berpikir begitu," kata Tadatoshi disertai senyum maklum. Disebutkannya nama Kojiro mengingatkan dirinya bahwa ia belum mengambil keputusan, apakah akan menerima rekomendasi Kakubei.

Kakubei menyarankan karena Kojiro belum begitu tua, kepadanya dapat ditawarkan sekitar seribu gantang. Tapi ada yang jauh lebih penting daripada persoalan penghasilan. Tadatoshi sudah berkali-kali diberitahu ayahnya bahwa yang paling penting pada waktu mempekerjakan samurai, pertama-tama adalah melakukan penilaian yang baik, dan baru memperlakukan mereka dengan baik. Sebelum menerima seorang calon, sangat ditekankan untuk tidak hanya menaksir keterampilannya, melainkan juga wataknya. Betapapun orang itu diinginkan, kalau ia tidak dapat bekerja sama dengan para abdi yang telah membentuk suasana dalam Keluarga Hosokawa sekarang mi, orang itu tidak akan berguna.

Tanah perdikan itu seperti benteng yang dibangun dari banyak batu, demikian nasihat Hosokawa tua. Batu yang tidak dapat dipotong agar sesuai dengan batu-batuan yang lain, akan melemahkan hubungan keseluruhan, sekalipun batu itu sendiri ukuran dan mutunya mengagumkan. Para daimyo zaman baru meninggalkan batu-batuan yang tidak cocok di pegunungan dan ladang, karena jumlah batu-batuan macam itu melimpah. Tantangan paling besar adalah bagaimana menemukan batu besar yang akan memberikan sumbangan menonjol kepada tembok. Ditinjau dari pemikiran itu, Tadatoshi merasa bahwa umur muda Kojiro itu cocok untuknya. Pemuda itu sedang dalam tahun-tahun pembentukan diri, sehingga masih dapat menerima sejumlah pengaruh.

Tapi Tadatoshi juga teringat akan seorang ronin lain. Nagaoka Sado sudah menyebutkan Musashi lebih dahulu dalam salah satu pertemuan malam seperti itu. Sado membiarkan Musashi lolos dari tangannya, tapi Tadatoshi tidak melupakannya. Kalau keterangan Sado memang tepat, Musashi adalah prajurit yang lebih baik daripada Kojiro, dan sekaligus orang yang cukup luas wawasannya, dan itu diperlukan sekali dalam pemerintahan.

Kalau ia bandingkan kedua orang itu, ia mesti mengakui bahwa kebanyakan daimyo akan lebih menyukai Kojiro. Ia berasal dari keluarga baik-baik dan telah mempelajari Seni Perang secara menyeluruh. Sekalipun masih muda, ia sudah mengembangkan gayanya sendiri yang hebat, dan sudah memperoleh kemasyhuran sebagai petarung. Cerita tentang kekalahan "gemilang" orang-orang Akademi Obata di tepi Sungai Sumida dan sekali lagi di tanggul Sungai Kanda itu sudah dikenal orang.

Sementara itu, tak ada orang mendengar tentang Musashi. Kemenangannya di Ichijoji memang menciptakan nama baik baginya. Tapi hal itu sudah bertahun-tahun yang lalu, dan segera sesudahnya tersebar berita bahwa cerita itu cuma dibesar-besarkan. Bahwa Musashi adalah pengejar kemasyhuran yang hanya membuat-buat perkelahian, kemudian melakukan serangan kilat dan melarikan diri ke Gunung Hiei. Setiap kali Musashi melakukan sesuatu yang patut dipuji, banjir desas-desus pun menyusul, mencemarkan watak dan kemampuannya. Hal itu sudah mencapai puncaknya, hingga kalau nama Musashi diucapkan orang saja, biasanya segera disambut dengan kecaman. Atau orang mengabaikannya sama sekali. Sebagai anak prajurit yang tak dikenal di Pegunungan Mimasaka, garis keturunannya tidaklah menonjol. Ada orang-orang lain yang sederhana asal-usulnya—yang paling menonjol di antaranya, Toyotomi Hideyoshi dari Nakamura di Provinsi Owari—telah mencapai kemuliaan belum lama ini, namun orang banyak itu secara keseluruhan bersikap sadar kelas, dan tidak menghiraukan orang dengan latar belakang seperti Musashi.

Sementara Tadatoshi merenungkan persoalan itu, ia memandang ke sekitarnya dan bertanya, "Apa ada di antara kalian yang kenal samurai bernama Miyamoto Musashi?"

"Musashi?" terdengar jawaban terkejut. "Mustahil kalau orang tidak mendengar tentang dia. Namanya disebut-sebut orang di seluruh kota." Jelas kelihatan, mereka semua kenal baik dengan nama itu.

"Kenapa begitu?" Pandangan penuh harap tampak pada wajah Tadatoshi.

"Banyak papan pengumuman dipasang tentang dia," ujar seorang pemuda dengan nada agak enggan.

Seorang samurai lain bernama Mori menimpali, "Orang banyak menyalin papan pengumuman itu, termasuk saya. Ada saya bawa sekarang. Boleh saya bacakan?"

"Ya, bacalah."

"Oh, ini dia," kata Mori sambil membuka sobekan kertas yang sudah kusut.

"'Ditujukan kepada Miyamoto Musashi yang sudah balik gagang dan lari..."' Orang-orang mengangkat alis dan mulai tersenyum, tapi wajah Tadatoshi murung. "Cuma itu?"

"Tidak." Mori membaca selebihnya, dan katanya, "Papan-papan itu dipasang gerombolan dari daerah tukang kayu. Orang menganggap ini menarik sekali, karena soalnya bajingan jalanan menjewer hidung seorang samurai."

Tadatoshi mengerutkan kening sedikit, dan merasa bahwa kata-kata yang memfitnah Musashi itu menyebabkan penilaiannya sendiri perlu dipertanyakan kembali. Ini berbeda sekali dengan gambarannya sendiri tentang Musashi. Namun ia tidak hendak menerima apa yang didengarnya itu begitu saja. "Hmm," gumamnya. "Aku ingin tahu juga, apa Musashi betul-betul orang macam itu."

"Saya kira dia itu orang kampung yang tidak ada harganya," ujar Mori, dan pendapatnya itu sama dengan pendapat yang lain-lain. "Atau paling sedikit, seorang pengecut. Kalau tidak, kenapa dia membiarkan namanya terseret dalam lumpur?"

Jam berbunyi, dan orang-orang pergi, tetapi Tadatoshi masih terus duduk sambil berpikir, "Ada yang menarik pada orang ini." Sebagai orang yang tak mau diombang-ambingkan oleh pendapat umum, ia ingin tahu cerita itu dari pihak Musashi.

Pagi harinya, sesudah mendengarkan kuliah tentang kesusastraan klasik Cina, ia keluar dari kamar belajarnya, masuk beranda, dan melihat Sado di halaman.

"Selamat pagi, kawan tua," serunya.

Sado menoleh, dan dengan sopan membungkuk sebagai ucapan selamat pagi.

"Apa Anda masih mencari?" tanya Tadatoshi.

Heran mendapat pertayaan itu, Sado hanya menatap balik.

"Maksud saya, apa Anda masih juga mencari Miyamoto Musashi?"

"Betul, Pak." Sado menundukkan mata.

"Kalau Anda sudah menemukan dia, bawa dia kemari. Saya ingin lihat, orang macam apa dia."

Tak lama sesudah tengah hari, pada hari itu juga, Kakubei mendekati Tadatoshi di lapangan memanah dan mendesakkan rekomendasinya tentang Kojiro.

Yang Dipertuan Muda memungut busur, dan katanya tenang, "Maaf, aku lupa. Bawa dia kapan saja kemari. Aku ingin melihatnya. Entah dia akan diterima menjadi abdi atau tidak, itu soal lain. Kau kan tahu."



Buah Bibir Orang Kota

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ95ro2H1KZzcaNdwVRBRZIvv9Wa9fRNiaeH-jpaDOAgB-93Bn0aZqhhfd5sXcOe-0TCFLYEkOkvZlQgRdxjXpAa0oyoPb5qnIpPBn7tSF3MDvSw7Guzx5BbW-Oewz4r9Ebvc2mMrKVrs/s1600/Musashi.jpg

ISTRI Kosuke sedang berada di dapur, membuat bubur untuk Shinzo, ketika Iori masuk.

"Buah prem itu sudah kuning," katanya.

"Kalau buah prem hampir masak, artinya jangkrik-jangkrik akan segera berbunyi," jawab istri Kosuke iseng.

"Apa Ibu tidak bikin acar buah prem?"

"Tidak. Tak banyak orang di sini, sedangkan untuk mengacar semua buah prem itu dibutuhkan beberapa kilo garam."

"Garam takkan terbuang sia-sia, tapi buah prem akan terbuang kalau Ibu tidak mengacarnya. Dan kalau ada perang atau banjir, buah prem akan berguna, kan? Karena Ibu sibuk merawat orang luka, bagaimana kalau saya yang membuat acar untuk Ibu?"

"Oh, lucu sekali kau ini, menguatirkan banjir dan segalanya itu. Pikiranmu macam orang tua."

Iori sudah mengeluarkan ember kayu kosong dari lemari dinding. Sambil membawa ember, ia pergi ke halaman dan menengadah ke pohon prem. Sayang sekali, walaupun ia cukup dewasa hingga menguatirkan masa depan, namun ia masih terlalu muda, hingga mudah saja perhatiannya menyeleweng pada seekor jangkrik yang sedang berbunyi. Ia pun mendekat, menangkapnya, dan menyekap jangkrik itu dengan tangannya, hingga jangkrik itu menjerit seperti perempuan tua ketakutan.

Iori mengintip lewat kedua ibu jarinya, dan ia memperoleh perasaan yang lain dari yang lain. Serangga mestinya tidak berdarah, tapi kenapa jangkrik terasa hangat? Barangkali jangkrik pun mengeluarkan panas tubuhnya kalau berhadapan dengan bahaya maut. Tiba-tiba ia diliputi campuran rasa takut dan kasihan. Dibukanya telapak tangannya, ia lemparkan jangkrik itu ke udara, dan ia lihat jangkrik itu terbang ke arah jalan.

Pohon prem yang sangat besar itu merupakan tempat kediaman satu khalayak yang besar juga-ulat-ulat gemuk berbulu indah, kepik-kepik tutul, kodok-kodok biru kecil yang bersembunyi di bawah-bawah daun, kupu-kupu malam kecil, dan lalat-lalat ternak yang suka menari-nari. Memandang dengan asyik ke arah sudut kecil kerajaan binatang ini, ia merasa tidak berperikemanusiaan sekiranya membikin ketakutan tuan-tuan dan nyonya-nyonya ini dengan mengguncangkan sebuah dahan. Hati-hati ia menggapai, memetik satu buah prem, dan menggigitnya. Kemudian pelan-pelan ia mengguncang-kan dahan terdekat, tapi ia heran, karena buah itu tidak juga jatuh. Ia mengulurkan tangan, memetik beberapa buah prem, dan menjatuhkannya ke ember di bawah.

"Hei!" teriak Iori. Tiba-tiba ia melemparkan tiga-empat buah prem ke jalan sempit di samping rumah. Galah jemuran pakaian antara rumah dan pagar ambruk ke tanah dengan bunyi berderak, dan langkah-langkah kaki terdengar bergegas menyingkir dari jalan kecil itu, ke jalan besar.

Wajah Kosuke muncul di antara jeruji bambu jendela kamar kerjanya. "Bunyi apa itu?" tanyanya. Matanya membelalak heran.

Sambil melompat turun dari pohon, Iori berteriak, "Ada orang sembunyi dalam gelap, jongkok di jalan kecil sana. Saya lempar dengan buah prem, lalu dia lari."

Kosuke keluar dan menghapus tangannya dengan handuk. "Orang macam apa?"

"Bromocorah."

"Orang Hangawara?"

"Saya tidak tahu. Kenapa orang-orang itu mengintai di sini?"

"Mereka cari kesempatan menyerang Shinzo lagi."

Iori melihat ke kamar belakang, tempat orang yang terluka itu sedang menyelesaikan makan bubur. Lukanya sudah sembuh dan tidak perlu dibalut lagi.

"Kosuke," panggil Shinzo.

Yang dipanggil pergi ke ujung beranda dan bertanya, "Bagaimana perasaan Anda?"

Shinzo menyingkirkan nampannya dan mengubah letak duduknya agar lebih resmi. "Saya ingin minta maaf karena sudah banyak menyulitkan."

"Tidak apa-apa. Saya juga minta maaf karena terlalu sibuk, hingga tak dapat berbuat lebih banyak."

"Saya lihat, disamping menguatirkan diri sava. Anda juga diganggu penjahat-penjahat Hangawara. Makin lama saya tinggal di sini, makin banyak bahayanya; mereka akan menganggap Anda sebagai musuh juga. Saya pikir saya mesti pergi dari sini."

"Jangan pikirkan dahulu."

"Seperti Anda lihat, keadaan saya sudah jauh lebih balk. Saya sudah siap pulang."

"Hari ini?"

"Ya."

"Jangan terburu-buru begitu. Setidaknya, tunggu sampai Musashi kembali."

"Saya pikir lebih baik tidak, tapi tolong sampaikan terima kasih saya kepadanya. Dia besar juga jasanya pada saya. Saya sudah bisa jalan sekarang„

"Anda rupanya tak mengerti. Orang-orang Hangawara mengawasi rumah ini siang-malam. Mereka akan segera menerkam Anda, begitu Anda melangkah ke luar. Saya kira tak bisa saya membiarkan Anda pergi sendiri."

"Saya punya alasan untuk membunuh Kojiro. Kojiro yang memulai semua ini, bukan saya. Tapi kalau mereka mau menyerang saya, biar mereka menyerang."

Shinzo berdiri dan siap pergi. Karena merasa tak bisa lagi menahannya, Kosuke dan istrinya pergi ke depan toko untuk mengantarnya pergi.

Justru pada waktu itu Musashi muncul di pintu, dahinya yang terbakar matahari basah oleh keringat. "Mau pergi?" tanyanya. "Mau pulang?... Saya senang melihat Anda merasa cukup sehat, tapi berbahaya kalau Anda pergi sendiri. Akan saya temani."

Shinzo mencoba menolak, tapi Musashi bersikeras. Beberapa menit kemudian, mereka berangkat bersama.

"Tentunya sukar berjalan, sesudah berbaring begitu lama."

"Rasanya tanah ini lebih tinggi daripada sebenarnya."

"Hirakawa Tenjin itu jauh dari sini. Bagaimana kalau kita sewa joli buat Anda?"

"Mestinya saya menyampaikannya dari tadi. Saya tidak akan kembali ke perguruan saya."

"Oh? Lalu ke mana?"

Sambil menunduk, Shinzo menjawab, "Agak memalukan juga, tapi saya pikir saya akan pulang ke rumah ayah saya sebentar. Tempatnya di Ushigome."

Musashi menghentikan sebuah joli, dan benar-benar memaksa Shinzo masuk. Pemikul-pemikul joli mendesak Musashi untuk naik joli juga, tapi ia menolak, dan ini mengecewakan orang-orang Hangawara yang mengawasi dari sekitar sudut di depan.

"Lihat, dia suruh Shinzo masuk joli."

"Aku lihat dia memandang kemari."

"Masih terlalu pagi buat bertindak."

Sesudah joli membelok ke kanan, lewat parit luar, mereka menaikkan rok, menyingsingkan lengan kimono, dan mengikuti dari belakang dengan mata berkilat-kilat, seakan-akan mata itu bakal meloncat dan meluncur ke punggung Musashi.

Ketika Musashi dan Shinzo sampai di kitaran Ushigafuchi, sebuah batu mengenai pikulan joli dan terlontar. Pada saat itu juga, segerombolan orang mulai berteriak-teriak dan bergerak mengepung korbannya.

"Tunggu!" seru seorang di antaranya.

"Jangan bergerak, bajingan!"

Karena ketakutan, para pemikul joli menjatuhkan joli dan melarikan diri. Shinzo merangkak keluar dari joli, tangannya memegang pedang. Sesudah berhasil berdiri, ia memasang jurus dan berteriak, "Aku yang kalian suruh tunggu?"

Musashi melompat ke depannya dan berteriak, "Sebutkan urusan kalian!"

Para penjahat itu maju dengan hati-hati, selangkah demi selangkah, seakan-akan meraba jalan di air yang dangkal.

"Kau tahu apa yang kami kehendaki!" kata seorang dari mereka, sambil meludah. "Serahkan pengecut yang kau lindungi itu, dan jangan coba melakukan yang aneh-aneh. Kalau tidak, kau akan mati juga."

Terdorong oleh sesumbar itu, kemarahan mereka semakin menggelegak dan bernada haus darah, tapi tak seorang pun maju menyerang dengan pedang. Api dalam mata Musashi sudah cukup membuat mereka mengambil sikap tetap bertahan. Mereka hanya menggonggong dan memaki dari jarak yang aman.

Musashi dan Shinzo menatap dengan diam. Beberapa saat berlalu, kemudian tanpa disangka-sangka Musashi berteriak kepada mereka, "Kalau Hangawara Yajibei ada di antara kalian, suruh dia maju."

"Majikan tak ada di sini. Tapi kalau ada yang mau kaukatakan, katakan padaku, Nembutsu Tazaemon, dan aku akan sediakan waktu buat mendengarkan." Orang tua itu melangkah maju. Ia mengenakan kimono resmi putih dan berkalung manik-manik tasbih Budha.

"Apa urusanmu dengan Hojo Shinzo?"

Sambil membidangkan dada, Tazaemon menjawab, "Dia membunuh dua orang kami."

"Menurut Shinzo, dua orang kalian sudah membantu Kojiro membunuh beberapa siswa Obata."

"Itu satu hal. Yang ini lain. Kalau kami tidak melakukan perhitungan dengan Shinzo, kami akan ditertawakan orang di jalan."

"Begitulah barangkali kebiasaan di dunia kalian," kata Musashi dengan nada ber-damai. "Tapi lain halnya di dunia samurai. Di antara kaum prajurit, kita tak bisa menyalahkan orang yang berusaha dan kemudian melakukan balas dendam yang sudah semestinya. Seorang samurai boleh membalas dendam demi keadilan, atau untuk mempertahankan kehormatannya, tapi bukan untuk memuaskan dendam perorangan. Itu tidak jantan. Dan apa yang hendak kalian lakukan sekarang ini tidak jantan."

"Tidak jantan? Kau menuduh kami tidak jantan?"

"Kalau Kojiro maju dan menantang kami atas namanya sendiri, itu tidak apa-apa. Tapi kami tak mau terlibat dalam pertengkaran yang ditimbulkan oleh antek-antek Kojiro."

"Nah, kau berkhotbah seenakmu sendiri, seperti samurai lainnya. Bicaralah semaumu, tapi kami mesti melindungi nama kami."

"Kalau samurai dan orang-orang di luar hukum bertengkar tentang peraturan siapa yang berlaku, jalanan-jalanan akan penuh dengan darah. Satu-satunya tempat buat menyelesaikan urusan adalah kantor hakim. Bagaimana, Nembutsu?"

"Omong kosong! Kalau soal ini dapat diselesaikan hakim, tak bakal kami ada di sini."

"Coba dengar, berapa umurmu?"

"Apa urusannya itu denganmu?"

"Menurutku, kau sudah cukup tua, hingga mestinya tahu, tak perlu memimpin gerombolan anak muda menuju maut yang tak ada artinya."

"Ah, simpan saja itu buat dirimu sendiri. Aku belum terlalu tua buat berkelahi!" Tazaemon menarik pedang, dan penjahat-penjahat lain bergerak maju, berdesak-desakan sambil berteriak-teriak.

Musashi mengelakkan tusukan Tazaemon dan mencekal belakang kepalanya yang sudah ubanan. Dengan langkah lebar, ia bergegas ke parit yang jauhnya sekitar sepuluh langkah, dan dengan cepat mendorong orang itu ke parit tersebut. Kemudian, ketika orang banyak itu menyerbu, ia bergegas berbalik, mengangkat Shinzo pada bagian pinggangnya, dan membawanya pergi.

Ia lari melintas ladang, menuju bagian tengah sebuah bukit. Di bawah mereka, sebuah sungai mengalir masuk parit, dan paya kebiruan tampak di dasar lerengnya. Sesudah setengah jalan mendaki, Musashi berhenti dan melepaskan Shinzo. "Nah, sekarang marl kita lari," katanya. Shinzo ragu-ragu, tapi Musashi mendesaknya supaya mulai lari.

Para penjahat, yang sudah sadar kembali dari keterkejutan mereka, melakukan pengejaran.

"Tangkap dia!"

"Tak punya malu!"

"Itu namanya samurai?"

"Tak bisa dia begitu saja melempar Tazaemon ke parit, lalu lari!"

Tanpa menghiraukan celaan dan cercaan, Musashi berkata pada Shinzo, "Jangan sekali-sekali terlibat dengan mereka. Lari! Ini satu-satunya cara dalam situasi macam ini." Sambil menyeringai, tambahnya, "Berat juga menempuh medan macam ini, ya?" Mereka melewati tempat yang di kemudian hari dikenal dengan nama Ushigafuchi dan Bukit Kudan, tapi waktu itu tempat itu masih hutan lebat.

Begitu para pengejar tidak kelihatan lagi, wajah Shinzo sudah tampak pucat seperti mayat.

"Capek?" tanya Musashi dengan nada ingin membantu.

"Oh... oh, tidak terlalu."

"Saya kira, sebenarnya Anda tak suka membiarkan mereka menghina seperti itu tanpa dilawan."

"Yah..."

"Ha, ha! Tapi pikirkanlah hal itu baik-baik dengan tenang, dan nanti Anda akan mengerti kenapa demikian. Ada masanya kita merasa lebih baik lari. Di sana ada sungai: Berkumurlah, nanti saya antar Anda ke rumah ayah Anda."

Dalam beberapa menit, hutan sekitar Tempat Suci Akagi Myojin sudah tampak. Rumah Yang Dipertuan Hojo letaknya di bawah.

"Saya harap Anda mau masuk menjumpai ayah saya," kata Shinzo ketika mereka sampai di tembok tanah yang melingkari rumah itu.

"Lain kali saja. Istirahatlah baik-baik, dan jaga diri Anda." Dengan kata-kata itu, Musashi pun pergi.



Sesudah peristiwa itu, nama Musashi sangat sering terdengar di jalanjalan Edo, jauh lebih sering daripada yang diharapkannya. Orang menyebutnya "orang palsu", "paling pengecut di antara semua pengecut", "tak kenal malu... aib buat golongan samurai. Kalau orang gadungan macam itu yang mengalahkan Keluarga Yoshioka di Kyoto, mereka tentunya sudah sangat lemah. Dia tentunya menantang mereka, karena tahu mereka sudah tak dapat melindungi diri. Dan kemudian barangkali dia melarikan diri sebelum benar-benar menghadapi bahaya. Yang ingin dilakukan orang lancung macam itu cuma menjual nama kepada orang banyak yang tak kenal permainan pedang." Tak lama kemudian, tak mungkin lagi menemukan orang yang bicara baik tentangnya.

Penghinaan tertinggi bagi Musashi adalah papan-papan pengumuman yang dipasang di seluruh Edo, Ditujukan kepada Miyamoto Musashi yang sudah balik gagang dan lari. Janda Hon'iden ingin membalas dendam. Kami juga ingin melihat wajahmu, bukan punggungmu. Kalau engkau seorang samurai, keluarlah, dan berkelahilah. Persatuan Hangawara.

Popular Posts

ARSIP